Sekilas Info

Teuku Fadhil, Reporter RRI Meulaboh

Konsep Hidup ala Jurnalis

Teuku Fadhil. Foto/Dok RRI.

Meulaboh | BumpNews.ID — Bagi Teuku Fadhil, menjadi jurnalis bukan sekadar pekerjaan. Bertahun-tahun menjalani profesi tersebut membawanya berhadapan dengan berbagai wajah kehidupan.

Mulai dari ruang pemerintahan hingga kehidupan masyarakat kecil, dari pejabat dan pengusaha hingga warga yang hidup dalam keterbatasan.

Pengalaman itu ikut membentuk cara Fadhil memandang kehidupan.

Ia tidak memilih motto panjang. Fadhil justru merangkumnya dalam tiga kata...

Jalani, syukuri, dan Nikmati.

“Kalau bagi saya, hidup itu tidak harus punya motto, yang penting punya konsep,” kata Fadhil kepada BumpNews.ID, Senin (10/8/2026).

Bagi Fadhil, konsep hidup merupakan cara seseorang memandang, memahami, dan menjalani kehidupan.

Konsep tersebut tumbuh dari pengalaman, nilai, pilihan, serta cara menyikapi berbagai keadaan.

Perjalanan itu tidak hanya terbentuk dari dunia jurnalistik.

Sebelum menjadi jurnalis, Fadhil pernah berada di dunia balap motor daerah pada 2007. Persaingan, kemenangan, dan kekalahan menjadi bagian dari pengalaman yang membentuk dirinya.

Namun, jurnalistik kemudian memberikan ruang pengalaman yang lebih luas.

Sejak 2010, Fadhil menekuni profesi sebagai reporter RRI Meulaboh. Pekerjaan itu mempertemukannya dengan beragam persoalan dan karakter manusia.

Sebagai jurnalis, ia tidak hanya melihat sebuah peristiwa dari satu sisi.

Ia bertemu pejabat ketika membahas kebijakan. Berjumpa pengusaha ketika berbicara tentang kepentingan ekonomi.

Kemudian pada sisi lain, ia juga melihat kehidupan warga miskin kota yang berhadapan dengan keterbatasan.

Ragam pertemuan tersebut membuat Fadhil memahami bahwa setiap orang memiliki perjalanan sendiri.

Merujuk pada pengalaman itulah kata pertama dalam konsep hidupnya muncul

Jalani...

Menurut Fadhil, kehidupan harus dijalani dengan usaha.

“Jalani setiap langkah kehidupan yang digariskan Tuhan. Kita tetap berusaha melakukan yang terbaik,” ujarnya.

Menjalani, baginya, bukan sikap menyerah terhadap keadaan.

Seorang jurnalis tetap bekerja dan menjalankan tanggung jawab profesi, begitupun kehidupan pribadi pun manusia perlu melakukan hal terbaik yang mampu dilakukan.

Namun, hasil akhir tidak seluruhnya berada dalam kendali manusia.

Sebagian keadaan dapat diperjuangkan. Sebagian lainnya perlu diterima ketika perubahan tidak lagi berada dalam kuasa manusia.

Kemudian dari proses menjalani itulah Fadhil memaknai kata kedua.

Syukuri...

Pengalamannya bertemu berbagai lapisan masyarakat membuatnya melihat bahwa kehidupan tidak memiliki ukuran tunggal.

Menurutnya, rasa syukur membantu seseorang menghargai apa yang dimiliki tanpa terlalu sibuk membandingkan kehidupannya dengan orang lain.

“Rasa syukur membuat kita lebih bisa menikmati apa yang ada, tanpa terlalu sibuk melihat kehidupan orang lain,” katanya.

Bagi Fadhil, seorang jurnalis yang setiap hari berhadapan dengan berbagai cerita kehidupan perlu memahami bahwa setiap orang memiliki kondisi dan perjuangannya sendiri.

Karena itu, kehidupan tidak harus ditempatkan sebagai perlombaan.

Setelah menjalani dan mensyukuri, Fadhil memilih kata ketiga.

Nikmati.

Menikmati kehidupan bukan berarti meninggalkan tanggung jawab. Sebagai jurnalis, pekerjaan tetap harus diselesaikan. Informasi tetap perlu dicari.

Namun, kehidupan tidak berhenti pada pekerjaan.

Menurut Fadhil, manusia juga membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak, melihat kembali perjalanan, dan memahami proses yang telah dilalui.

Pada titik itu, pengalaman jurnalistik kembali memberi makna.

Berhadapan dengan banyak persoalan membuatnya memahami bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Karena itu, menerima keadaan yang tidak dapat diubah menjadi bagian dari proses menjalani kehidupan.

Selanjutnya 1 2
Editor: Muhammad Akbar