Tgk Habibi An Nawawi
Meniti Jalan Ilmu dari Aceh hingga Yaman
Meulaboh | BumpNews.ID - Menuntut ilmu bagi Tgk. Habibi An Nawawi bukan sekadar perjalanan pendidikan. Ia menjadi jalan hidup yang ditempuh sejak usia kecil, dari lingkungan dayah di Aceh hingga ruang-ruang keilmuan di Yaman.
Ia tumbuh dalam keluarga yang dekat dengan tradisi pendidikan Islam. Ayahandanya, Abon Sabirin, yang dikenal sebagai pimpinan pesantren di Aceh Barat, menjadi sosok yang mengenalkan pentingnya ilmu, disiplin, dan akhlak.
Masa kecil Tgk. Habibi lekat dengan suasana dayah. Mengaji, belajar, dan menjalani kehidupan sederhana menjadi bagian dari kesehariannya. Dari lingkungan itu pula kecintaan terhadap ilmu agama mulai tumbuh.
Pendidikan formalnya ditempuh di SD Negeri Meutulang, Panton Reu, Aceh Barat. Di saat yang sama, ia memperdalam ilmu agama di Dayah Bustanul Muarif pada 2010–2011.
Setelah itu, perjalanan keilmuannya berpindah dari satu dayah ke dayah lainnya. Ia belajar di Dayah Darul Amilin, Aceh Selatan, pada 2011–2013. Kemudian melanjutkan pendidikan di Dayah Ulumuddin Uteunkot, Lhokseumawe, pada 2014–2017.
Rihlah itu berlanjut ke Dayah Darul Huda Lueng Angen, Aceh Utara, pada 2017–2020. Setiap tempat meninggalkan pengalaman dan pelajaran yang memperkaya perjalanan intelektual sekaligus membentuk karakternya sebagai santri.
Pada 2020, Tgk. Habibi meninggalkan Aceh menuju Pulau Jawa. Ia menimba ilmu di Markaz Al-Adni, Pasuruan, hingga 2021.
Perjalanan ke berbagai pesantren di Indonesia kemudian membawanya pada satu pilihan yang lebih jauh: Yaman. Pada 2021, ia berangkat ke Tarim, kota yang memiliki tradisi keilmuan Islam yang panjang.
Kemudian Tgk. Habibi menempuh pendidikan di Universitas Al-Washatiyyah pada 2021–2025.
Ia mengambil kajian Syariah dan Ushuluddin, sekaligus memperluas wawasan keislaman dalam lingkungan akademik yang berbeda dari pengalaman belajarnya di Indonesia.
Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, perjalanan belum berakhir. Sejak 2025, ia melanjutkan studi magister di Jami’ah Al-Qur’an wa Al-‘Ulum Al-Islamiyyah untuk memperdalam kajian Al-Qur’an dan ilmu-ilmu keislaman.
Dua puluh tahun perjalanan menuntut ilmu membuat pendidikan bagi Tgk. Habibi tidak berhenti pada ruang kelas. Ada perjalanan, perpisahan dengan keluarga, kehidupan sederhana, dan proses panjang yang harus dijalani.
Kini ia kembali ke Indonesia untuk sementara waktu. Kehadirannya kali ini bukan untuk berhenti belajar, melainkan mengikuti Akademi Sahur Indonesia (AKSI) 2026.
Panggung AKSI menjadi bagian baru dari perjalanan dakwahnya. Namun setelah agenda tersebut selesai, ia berencana kembali ke Yaman untuk melanjutkan pendidikan.
Dari Aceh hingga Yaman, jalan yang ditempuh Tgk. Habibi memperlihatkan satu hal: ilmu membutuhkan kesetiaan pada proses. Bukan hanya kecerdasan yang diuji, tetapi juga kesabaran untuk terus berjalan ketika perjalanan terasa panjang.
Bagi seorang pencari ilmu, perjalanan belum selesai ketika satu jenjang pendidikan berakhir.
Sebab, semakin jauh seseorang berjalan, semakin luas pula ilmu yang ingin dipelajari.
Itulah jalan yang dipilih Tgk. Habibi An Nawawi menjadikan ilmu bukan sekadar tujuan pendidikan, tetapi bagian dari jalan hidup.***









Komentar