Sekilas Info

Penyintas Banjir di Beutong Ateuh Jalani Ibadah Ramadhan Tanpa Listrik

Ilustrasi. Foto/Net

Nagan Raya | BumpNews.ID  – Ratusan penyintas banjir bandang di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, masih menjalani ibadah Ramadhan tanpa aliran listrik.

Hingga memasuki hari ke-17 puasa, warga yang tinggal di tenda darurat terpaksa sahur dan berbuka puasa dalam kondisi gelap.

Salah seorang pemuda Beutong Ateuh Banggalang, Samsuardi, Kamis (5/3), mengatakan masyarakat yang mengungsi masih mengandalkan lilin dan lampu minyak (lampu panyet) sebagai penerangan saat malam hari.

“Sudah masuk hari ke-17 Ramadhan, masyarakat masih berbuka dan makan sahur dalam kondisi gelap di tenda pengungsian. Penerangan hanya dari lilin dan lampu minyak,” kata Samsuardi.

Menurut dia, kondisi tersebut cukup menyulitkan warga, terutama saat menjalankan aktivitas ibadah di bulan Ramadhan.

Minimnya penerangan membuat suasana tenda pengungsian menjadi sangat gelap, terlebih bagi warga yang jarak tempat tinggalnya berjauhan.

“Coba dibayangkan bagaimana masyarakat makan sahur dan berbuka dalam gelap gulita di tenda pengungsian, apalagi ada warga yang tinggal cukup jauh dari tetangga,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sebelum Ramadhan sempat tersedia genset desa yang menyuplai listrik hingga sekitar pukul 24.00 WIB dan dapat menjangkau tenda-tenda pengungsi. Namun sejak awal Ramadhan, genset tersebut tidak lagi berfungsi.

“Di Desa Kuta Teungoh sebelumnya ada genset yang hidup sampai tengah malam dan listriknya sampai ke tenda masyarakat. Tapi sejak Ramadhan genset itu sudah tidak hidup lagi, kami juga kurang tahu apakah rusak atau ada kendala lain,” katanya.

Samsuardi berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah untuk membantu pengaliran listrik ke lokasi pengungsian agar masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan lebih nyaman.

“Penerangan sangat penting selama Ramadhan, terutama saat masyarakat sahur, berbuka, dan beribadah. Kami berharap pemerintah terkait bisa segera membantu pengaliran listrik ke lokasi pengungsian,” ujarnya.

Diketahui, banjir bandang yang melanda Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang pada 26 November 2025 menyebabkan ratusan rumah warga hanyut serta merusak berbagai infrastruktur di wilayah tersebut.

Akibat bencana tersebut, warga dari dua desa terpaksa mengungsi ke kawasan pegunungan dan tinggal di tenda darurat.

Hingga kini, hampir empat bulan pascabencana, sebagian masyarakat masih bertahan di lokasi pengungsian dan berencana menetap di kawasan tersebut sebagai permukiman baru.