Kisah Yusril, Anak Yatim Piatu asal Simeulue, Raih Gelar Magister di Universitas Indonesia
Jakarta | BumpNews.ID - Yusril Yudi Safaat baru saja menuntaskan pendidikan magister di Universitas Indonesia (UI) melalui Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Namun dibalik pencapaian itu, tersimpan perjalanan panjang seorang anak nelayan asal Simeulue, Aceh, yang harus berulang kali berjuang untuk mendapatkan pendidikan, kembali melaut demi biaya tes bahasa Inggris, hingga kehilangan kedua orang tuanya saat sedang menempuh pendidikan magister.
Yusril menyelesaikan studi magisternya pada 2026 dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,84. Ia mengambil konsentrasi Kajian Stratejik Ketahanan Nasional dengan fokus pada keamanan nasional, keamanan energi, transisi energi, dan energi terbarukan.
Kedati demikian, pencapaian tersebut tidak diraih dengan jalan yang mudah. Setelah lulus SMK, Yusril pernah gagal masuk perguruan tinggi. Ia kemudian kembali melaut bersama ayahnya untuk bertahan hidup.
Beberapa tahun kemudian, kesempatan untuk melanjutkan pendidikan kembali terbuka. Ia diterima di Universitas Syiah Kuala (USK) melalui Beasiswa Bidikmisi. Dari sana, perjalanan akademiknya berlanjut hingga mengantarkannya ke UI.
Mimpi Menjadi Teknisi Google
Yusril mengawali pendidikan di SD Negeri 3 Alafan, Simeulue. Ia kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 3 Salang dan SMK Negeri 1 Sinabang, Aceh.
Ia mengambil jurusan Teknik Komputer dan Jaringan pada 2014-2017. Ketertarikannya terhadap dunia komputer membuat Yusril memiliki cita-cita besar. Ia ingin melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat dan suatu hari bekerja sebagai teknisi di Google.
Bagi anak seorang nelayan yang tumbuh di pulau kecil, cita-cita tersebut tentu bukan sesuatu yang mudah diwujudkan. Apalagi, kondisi ekonomi keluarga membuatnya harus berhadapan langsung dengan berbagai keterbatasan.
Selepas lulus SMK pada 2017, Yusril mencoba mendaftar ke perguruan tinggi. Namun, ia tidak lolos seleksi.
Kegagalan itu membuatnya kembali ke laut. Ia mengikuti sang ayah bekerja sebagai nelayan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup.
Meski harus bekerja di laut, keinginannya untuk kuliah tidak pernah benar-benar hilang. Setahun kemudian, kesempatan itu datang.
Pada 2018, Yusril diterima di Program Studi Ilmu Politik USK melalui Beasiswa Bidikmisi. Ia kemudian menyelesaikan pendidikan sarjananya pada 2022 dengan IPK 3,59.
Melaut demi TOEFL
Setelah meraih gelar sarjana, Yusril kembali memasang target yang lebih tinggi. Ia ingin melanjutkan pendidikan magister, bahkan sempat membidik perguruan tinggi di Australia.
Namun, rencana itu membutuhkan sejumlah persyaratan, salah satunya sertifikat kemampuan bahasa Inggris atau TOEFL. Biaya mengikuti tes menjadi persoalan tersendiri bagi Yusril.
Ia pun kembali memilih laut sebagai tempat mencari biaya.
Untuk kedua kalinya, Yusril melaut. Kali ini bukan karena gagal masuk perguruan tinggi, melainkan untuk mengumpulkan biaya mengikuti tes yang dibutuhkan dalam proses pendaftaran beasiswa.
Jeripayah hasil melaut itu, ia gunakan memenuhi kebutuhan untuk mengikuti tes TOEFL. Upayanya kemudian membuahkan hasil.
Yusril lolos seleksi Beasiswa LPDP dan diterima di Program Studi Kajian Ketahanan Nasional Universitas Indonesia pada 2024.