Sekilas Info

Kisah Yusril, Anak Yatim Piatu asal Simeulue, Raih Gelar Magister di Universitas Indonesia

Yusril Yudi Safaat. Foto/HO BumpNews.

Kehilangan Ibu dan Ayah 

Saat perjuangan akademiknya belum usai, Yusril harus berhadapan dengan kehilangan yang paling berat.

Saat memasuki semester pertama, Yusril kehilangan ibunya, Murniati. Perempuan yang selama ini membesarkan dan mendukungnya harus berpulang ketika perjalanan pendidikan magisternya baru dimulai.

Belum selesai menghadapi kehilangan tersebut, Yusril kembali mendapat kabar duka. Saat memasuki semester empat, ayahnya, Abdul Haris, menyusul sang istri.

Dalam waktu kurang dari dua tahun, Yusril kehilangan kedua orang tuanya. Ia harus melanjutkan pendidikan sebagai seorang yatim piatu.

Kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti. Ia memilih menyelesaikan pendidikan sebagai bentuk penghormatan kepada kedua orang tuanya.

Dalam ucapan terima kasihnya, Yusril menyebut keberhasilan pendidikan yang diraihnya tidak terlepas dari perjuangan dan pengorbanan kedua orang tuanya.

“Seluruh perjalanan pendidikan yang telah saya tempuh, mulai dari sekolah dasar hingga menyelesaikan pendidikan Magister di Universitas Indonesia, tidak akan pernah terwujud tanpa kerja keras, pengorbanan, doa, dan kasih sayang yang mereka berikan,” ujar Yusril.

Menurutnya, kedua orang tuanya selalu berusaha memberikan kesempatan pendidikan terbaik meski hidup dalam keterbatasan.

“Dengan segala keterbatasan yang mereka miliki, kedua orang tua saya selalu berusaha memberikan kesempatan pendidikan yang terbaik, dengan harapan saya dapat memiliki kehidupan yang lebih baik daripada yang pernah mereka jalani,” katanya.

Yusril mengatakan nilai-nilai yang ditanamkan kedua orang tuanya tetap menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan.

“Meskipun kedua orang tua saya telah berpulang, nilai-nilai kehidupan, keteladanan, semangat bekerja keras, kejujuran, serta kasih sayang yang mereka tanamkan akan senantiasa menjadi pedoman dalam setiap langkah kehidupan saya,” ujarnya.

Ia juga mempersembahkan tesisnya untuk kedua orang tuanya.

“Tesis ini saya persembahkan sebagai bentuk penghormatan, rasa syukur, dan ungkapan terima kasih yang tidak akan pernah mampu membalas seluruh cinta, perjuangan, dan pengorbanan mereka,” kata Yusril.

Saudara Mengambil Peran Orang Tua

Sepeninggal kedua orang tuanya, Yusril tidak sepenuhnya menjalani masa studi seorang diri. Saudara-saudaranya mengambil peran untuk memberikan dukungan, baik secara materi maupun emosional.

Dukungan tersebut membuat Yusril tetap dapat berkonsentrasi menyelesaikan pendidikan meski keluarga sedang berduka.

“Berkat segala bentuk dukungan, baik materiil maupun non-materiil, dari saudara-saudara kandung saya, saya akhirnya bisa menyelesaikan studi ini,” ujarnya.

Menurut Yusril, saudara-saudaranya menjadi tempat bergantung setelah kedua orang tuanya meninggal dunia.

“Mereka yang menggantikan peran orang tua saya setelah kepergian keduanya, memastikan saya tetap bisa fokus kuliah meski kami semua sedang berduka. Tanpa mereka, saya rasa saya tidak akan sanggup bertahan sampai ke titik ini,” katanya.

Meneliti Keamanan Energi Pulau Terpencil

Pengalaman tumbuh di Simeulue turut memengaruhi bidang yang kemudian ia dalami di UI.

Dalam tesisnya, Yusril mengangkat persoalan keamanan energi rumah tangga di pulau terpencil Kepulauan Seribu melalui sistem pembangkit hibrida tenaga surya-diesel.

Menurutnya, masyarakat di pulau-pulau terpencil menghadapi tantangan besar untuk mendapatkan pasokan listrik yang stabil, terjangkau, dan dapat diakses secara merata.

Karena itu, ia melihat persoalan energi bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga berkaitan dengan ketahanan wilayah dan kesejahteraan masyarakat.

“Saya ingin fokus meneliti keamanan energi di pulau-pulau terpencil, karena tantangan untuk menghadirkan listrik yang stabil, murah, dan bisa diakses semua orang di sana itu sangat kompleks,” ujar Yusril.

Ia menilai persoalan tersebut juga berkaitan dengan dinamika transisi energi global, geopolitik, serta rantai pasok energi.

“Jadi ketahanan energi di level lokal itu sebenarnya juga bagian dari ketahanan nasional secara lebih luas,” katanya.

Ketertarikan itu mendorong Yusril untuk bercita-cita menjadi peneliti yang fokus pada keamanan energi di pulau-pulau terpencil Indonesia.

Membidik Pendidikan S3

Setelah menyelesaikan pendidikan magister, Yusril belum ingin berhenti. Ia kini membidik pendidikan doktoral dan mulai mencari peluang beasiswa untuk melanjutkan studi S3.

Keinginan itu sekaligus menjadi bagian dari upayanya melanjutkan cita-cita yang dibangun sejak kecil.

Ia berharap ada perhatian dan dukungan dari pemerintah daerah maupun Pemerintah Aceh agar langkahnya menuju pendidikan doktoral (S3) dapat terus berlanjut.

Bagi Yusril, dukungan itu bukan sekadar bantuan untuk membiayai pendidikan. Lebih dari itu, ia ingin membuktikan bahwa anak dari pulau kecil seperti Simeulue juga bisa terus melangkah dan kelak membawa ilmu yang diperolehnya kembali untuk daerah.

Kepada anak-anak muda di daerah terluar, khususnya mereka yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, Yusril berpesan agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan.

“Saya ingin menunjukkan bahwa anak-anak dari pulau terluar seperti Simeulue juga punya kesempatan yang sama untuk melanjutkan sekolah setinggi mungkin, asal mau berusaha dan tidak menyerah saat gagal,” katanya.

“Pendidikan itu jalan keluar dari keterbatasan, dan saya berharap semakin banyak anak muda dari daerah terpencil yang berani mengejar mimpi itu,” lanjutnya.

Perjalanan Yusril bermula dari sebuah pulau kecil di Simeulue. Ia pernah gagal masuk perguruan tinggi, kembali melaut, berjuang mendapatkan biaya untuk tes TOEFL, hingga akhirnya berhasil meraih gelar magister dari Universitas Indonesia.***

Selanjutnya 1 2
Editor: Mansyah Berutu