PUPR Aceh Barat Rilis Kerusakan Fasum Akibat Banjir
ACEH BARAT | BumpNews.ID — Derasnya banjir luapan dari dua sungai besar, Kreung Meureubo dan Kreung Woyla, kembali memukul infrastruktur vital di Kabupaten Aceh Barat. Setelah beberapa hari melakukan observasi intensif di lapangan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh Barat merampungkan pendataan kerusakan. Hasilnya sungguh memprihatinkan: tiga jembatan rusak, sejumlah badan jalan amblas, serta lima jembatan gantung tidak lagi dapat digunakan.
Kepala Dinas PUPR Aceh Barat, Dr. Kurdi, melalui Kabid Jalan dan Jembatan, Beni Hardi, memaparkan bahwa kerusakan tersebut merupakan dampak langsung dari tingginya intensitas hujan yang memicu luapan sungai selama beberapa hari terakhir. Sejumlah titik bahkan mengalami kerusakan cukup serius hingga memutus akses antar-gampong.
Menurut data Dinas PUPR, tiga jembatan utama mengalami kerusakan pada bagian struktur penyangga:
1. Jembatan Gaseu – Sipot, rusak berat pada talut oprit.
2. Jembatan Lango, alami kerusakan pada fender dan talut oprit.
3. Jembatan Pasi Mesjid – Mesjid Tuha, juga rusak pada bagian talut oprit.
“Struktur oprit yang jebol ini membuat akses jembatan sangat berbahaya dilalui. Di beberapa lokasi, badan jembatan terlihat menggantung akibat tanah pendukung yang tergerus arus banjir,” ungkap Beni Hardi di Meulaboh, Minggu (30/11/2025).
Kerusakan parah juga terjadi pada sejumlah badan jalan. Beberapa titik amblas, ambles total, atau tertimbun lumpur dan material banjir. Berikut data lengkapnya:
1. Ruas Lawet – Canggai, tidak dapat dilalui.
2. Pulo Teungoh – Keutambang, putus total.
3. Pulo Teungoh – Jambak Sikundo, tidak bisa dilalui.
4. Pulo Teungoh – Jambak – Sikundo, mengalami kerusakan di banyak titik dan terputus.
5. Pasi Janeng – Paya Baro, tidak dapat dilalui.
6. Kubu Capang – Pasie Ara, rusak tetapi masih bisa dilewati secara terbatas.
7. Bakat – Jawi – Sipot, rusak berat, hanya dapat dilalui oleh sepeda motor.
8. Le Sayang – Alue Keumuneng, dapat dilalui dengan keterbatasan.
Kerusakan paling parah terdapat pada ruas Jambak – Sikundo, yang terputus total dan menjadikan Gampong Jambak dan Gampong Sikundo terisolir. Warga tidak bisa keluar-masuk desa kecuali melalui jalur darurat yang juga berisiko.
Selain jembatan permanen, lima jembatan gantung yang menjadi akses penting warga pedalaman juga ikut terdampak:
1. Jembatan gantung Kajeung – Tungkop, tidak dapat dilalui.
2. Jembatan gantung Manggi, tidak dapat dilalui.
3. Jembatan gantung Keutambang – Lawet, rusak sedang.
4. Jembatan gantung Jambak – Canggai, tidak dapat dilalui.
5. Jembatan gantung dalam Gampong Sikundo, tidak dapat dilalui.
“Fungsi jembatan gantung ini sangat vital untuk masyarakat di wilayah pedalaman. Ketika terputus seperti ini, mobilitas warga benar-benar lumpuh,” tambah Beni.
Begitu banjir mulai surut, Dinas PUPR langsung menurunkan alat berat untuk melakukan normalisasi badan jalan serta pembersihan material banjir. Fokus utama adalah membuka kembali akses menuju dua gampong yang terisolir.
“Kami sedang membangun badan jalan darurat agar warga dapat kembali beraktivitas. Namun, proses ini diperkirakan membutuhkan 2–3 hari, karena terkendala ketersediaan material timbunan dan kondisi banjir yang masih tinggi di beberapa titik,” jelas Beni.
Meski begitu, tim PUPR memastikan pekerjaan dilakukan tanpa henti demi mempercepat pemulihan akses masyarakat.
Sejumlah warga di daerah terdampak menyampaikan bahwa banjir semacam ini bukan pertama kali terjadi. Mereka berharap adanya penanganan jangka panjang, terutama mitigasi di kawasan daerah aliran sungai serta penguatan struktur jembatan dan badan jalan.
Banjir besar yang menghantam Aceh Barat pada akhir November 2025 ini kembali menunjukkan betapa rentannya infrastruktur terhadap bencana alam, terutama di wilayah dengan akses pedalaman yang sangat bergantung pada jembatan dan jalan penghubung.
Dinas PUPR Aceh Barat berkomitmen melanjutkan pemulihan hingga seluruh akses kembali normal.









Komentar