Sekilas Info

UTU Soroti Transformasi Pendidikan Tinggi di Era Digital untuk Daerah 3T

Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian. Foto/Humas UTU.

Meulaboh | BumpNews.ID – Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh menggelar Sidang Terbuka Senat Universitas dalam rangka peringatan Dies Natalis ke-19, Selasa (11/11/2025), di Auditorium Teuku Umar.

Momentum ini menjadi komitmen kuat UTU untuk mempercepat transformasi pendidikan tinggi di era digital, terutama bagi daerah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T).

Rektor UTU, Prof. Ishak Hasan, dalam sambutannya menyampaikan bahwa peringatan Dies Natalis merupakan momentum refleksi dan evaluasi terhadap perjalanan UTU selama hampir dua dekade.

Ia menegaskan komitmen UTU untuk terus berbenah menuju perguruan tinggi unggul dan berdaya saing nasional.

“UTU bertekad menjadi bukan hanya pusat pendidikan, tetapi juga motor penggerak pembangunan di kawasan Barat Selatan Aceh dan secara nasional,” ujar Prof. Ishak.

Ia turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh sivitas akademika atas dedikasi yang membawa UTU meraih akreditasi Unggul untuk dua program studi, yakni Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Kelautan.

Memasuki usia ke-19, Prof. Ishak menegaskan bahwa UTU akan terus bertransformasi menjadi perguruan tinggi yang adaptif terhadap kemajuan teknologi, namun tetap berakar pada nilai-nilai lokal sebagai jati diri akademik di Tanah Rencong.

Sementara itu, Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, yang turut hadir, menegaskan bahwa kunci menuju Indonesia Emas 2045 yakni menjadi negara maju dengan Produk Domestik Bruto (PDB) lima besar dunia terletak pada transformasi sumber daya manusia (SDM).

Hetifah mengungkapkan, Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi Indonesia pada 2024 baru mencapai 32 persen, jauh tertinggal dari negara tetangga seperti Malaysia 43 persen dan Singapura 91,09 persen .

Pemerintah, katanya, menargetkan APK pendidikan tinggi meningkat hingga 60 persen pada tahun 2045.

“Tantangan terbesar di daerah 3T dan pesisir mencakup keterbatasan kapasitas daya tampung, ketimpangan sebaran perguruan tinggi, tingginya biaya pendidikan, serta minimnya sumber daya pendidikan yang berkualitas. Perguruan tinggi bermutu masih terkonsentrasi di Pulau Jawa,” ujar Hetifah.

Ia menambahkan, transformasi digital menjadi solusi strategis untuk menutup kesenjangan mutu dan mewujudkan pemerataan akses pendidikan.

“Transformasi ini bukan sekadar adopsi teknologi, tetapi mencakup pengembangan ekonomi berbasis keterampilan digital dan memastikan perguruan tinggi menghasilkan lulusan berkompetensi tinggi, bukan sekadar pabrik ijazah,” tegasnya.***

Editor: Nashar