Anak Petani di Aceh Barat Raih Gelar Profesor Hukum di USK
Prof Teuku Ahmad Yani
Meulaboh | BumpNews.ID - sebuah desa kecil di Cot Seumeureng, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, perjalanan akademik seorang anak petani membawa T Ahmad Yani ke salah satu pencapaian tertinggi di dunia pendidikan: menjadi profesor.
Lahir pada 8 Oktober 1965, Yani tumbuh dalam keluarga sederhana. Lingkungan desa yang jauh dari gemerlap kehidupan akademik tidak membuatnya berhenti mengejar pendidikan.
Ia justru menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk terus belajar. Dari desa, langkahnya perlahan membawa Yani menempuh pendidikan tinggi dan mendalami bidang hukum.
Perjalanan itu dilalui secara konsisten. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana, kemudian melanjutkan magister hukum di Universitas Airlangga dan meraih gelar doktor di Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala.
Puluhan tahun menekuni dunia hukum akhirnya mengantarkan Yani pada pengukuhan sebagai profesor hukum di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.
Di balik gelar tersebut, tersimpan perjalanan panjang seorang anak desa yang memilih pendidikan sebagai jalan hidup.
Merujuk pada orasi ilmiah pengukuhannya, Yani mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan pelaku usaha kecil.
Ia membahas perubahan nomenklatur badan usaha dari Usaha Dagang (UD) menjadi Perseroan Terbatas (PT) serta dampaknya terhadap pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah.
Kajian tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi penguatan aspek hukum dalam pengembangan UMKM.
Bagi masyarakat Samatiga, pencapaian itu bukan sekadar gelar akademik. Ada kebanggaan ketika seorang putra daerah mampu mencapai posisi tertinggi dalam jenjang akademik.
Sekretaris Jenderal Forum Pembangunan Samatiga (FORBANGSA), Suandi, mengatakan perjalanan Yani menjadi bukti bahwa latar belakang sederhana bukan penghalang untuk meraih prestasi.
“Beliau membuktikan bahwa siapa pun bisa meraih gelar tertinggi, asal tekun dan tulus menjalaninya. Semoga ini menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya anak-anak desa,” ujar Suandi.
Menurut Suandi, keberhasilan tersebut juga tidak terlepas dari kerja keras dan dukungan keluarga yang menemani perjalanan panjang Yani.
“Kami sangat bangga. Semoga ilmunya membawa dampak positif bagi penataan hukum dan pembangunan bangsa,” katanya.
Dari Cot Seumeureng, perjalanan Yani menunjukkan bahwa jalan menuju dunia akademik tidak selalu dimulai dari tempat yang besar.
Kadang, ia bermula dari sebuah desa, dari keluarga sederhana, dan dari seorang anak yang memilih untuk terus belajar.
Kini, nama T Ahmad Yani menjadi bagian dari perjalanan akademik Universitas Syiah Kuala.
Gelar profesor yang diraihnya bukan hanya pencapaian pribadi, tetapi juga menjadi cerita tentang bagaimana pendidikan dapat membuka jalan dari sebuah desa menuju ruang akademik tertinggi.