Sekilas Info

Karhutla Aceh Barat Capai 50,2 Hektare, BPBD Tegaskan Data Berdasar Pantauan Lapangan

ACEH BARAT | BumpNews.ID – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Aceh Barat hingga Kamis (29/1/2026) sore berdasarkan data riil lapangan tercatat seluas 50,2 hektare. Data tersebut diperoleh dari hasil pengukuran dan pemantauan langsung tim gabungan di lokasi kebakaran.

Berdasarkan Update Laporan Lapangan BPBD Aceh Barat per Kamis, 29 Januari 2026 pukul 17.00 WIB, Karhutla terjadi di tujuh kecamatan, yakni Johan Pahlawan, Woyla, Woyla Barat, Meureubo, Pante Ceureumen, Bubon, dan Kaway XVI.

Lokasi kebakaran yang terdata di lapangan meliputi Gampong Lapang (Ujong Beurasok), Suak Raya, Suak Nie, Aron Baroh, Blang Luah LM, Napai, Alue Peunyareng, Ujong Tanoh Darat, Ranto Panyang Timur, Pulo Teungoh Manjeng, Peulante, serta Meunasah Rambot.

Kepala Pelaksana BPBD Aceh Barat, Teuku Ronald Nehdiansyah, menyampaikan bahwa kebakaran pertama kali terpantau di lapangan pada Kamis, 15 Januari 2026 pukul 15.45 WIB di kawasan Jalan Ujong Beurasok, Kecamatan Johan Pahlawan, dengan dua titik api awal.

“Penghitungan luas lahan terbakar kami lakukan secara manual di lapangan, berdasarkan penyisiran langsung tim pemadam di setiap lokasi terdampak, bukan menggunakan citra satelit,” jelas Ronald.

Hasil penghitungan riil di lapangan menunjukkan luasan lahan terbakar terdiri dari Suak Raya 10,5 hektare, Ujong Beurasok 9,5 hektare, Suak Nie 10 hektare, Aron Baroh 0,5 hektare, Alue Peunyareng 1 hektare, Ujong Tanoh Darat 0,5 hektare, Peulante 4,2 hektare, Blang Luah 4 hektare, Meunasah Rambot 8 hektare, dan Ranto Panyang Timur 2 hektare.

Sementara itu, berdasarkan laporan lapangan terbaru, 25,4 hektare lahan telah berhasil ditangani oleh tim gabungan, terutama di wilayah Suak Raya, Ujong Beurasok, Suak Nie, Aron Baroh, Alue Peunyareng, Blang Luah, Ujong Tanoh Darat, dan Meunasah Rambot.

Dalam penanganan di lapangan, BPBD Aceh Barat mengerahkan dua unit drone untuk pemantauan visual, armada water supply, kendaraan operasional, mesin air, selang, serta peralatan pemadaman manual yang disesuaikan dengan kondisi medan.

BPBD juga mencatat sejumlah kendala lapangan, di antaranya angin kencang yang mempercepat rambatan api serta keterbatasan sumber air di beberapa titik kebakaran, sehingga proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama.

Ronald menegaskan bahwa seluruh data yang disampaikan merupakan hasil pantauan langsung petugas di lapangan dan menjadi dasar pengambilan keputusan dalam penanganan Karhutla.

Penanganan Karhutla di Aceh Barat melibatkan unsur BPBD, pemadam kebakaran kecamatan, Manggala Agni, TNI-Polri, KPH, DLHK Provinsi Aceh, serta masyarakat setempat, dan akan terus dilakukan hingga seluruh titik api benar-benar padam.