25 Tahun Mengabdi, Muhammad Nasir Tinggalkan Pesan untuk Generasi MAN Aceh Singkil
SINGKIL | BUMPNEWS.ID – Dua puluh lima tahun bukan waktu yang singkat bagi Muhammad Nasir, S.Pd. untuk mengabdikan diri sebagai guru di MAN Aceh Singkil. Dari madrasah yang dulu hanya memiliki tiga ruang belajar berlantaikan tanah, ia menyaksikan perubahan demi perubahan hingga memasuki masa purna tugas.
Perjalanan itu juga diwarnai rutinitas panjang. Selama bertahun-tahun, Muhammad Nasir harus menempuh perjalanan pulang-pergi dari Kuala Baru ke Singkil untuk menjalankan tugasnya sebagai pendidik.
Kini, perjalanan panjang tersebut ditutup melalui acara perpisahan purna tugas yang digelar keluarga besar MAN Aceh Singkil di Masjid Baiturrahim Pasar Singkil Rabu (16/9/2026).
Pengawas Madrasah, Syafrida, S.Pd., menyebut Muhammad Nasir sebagai sosok guru yang dikenal ramah, dekat dengan siswa, serta memiliki cara mengajar yang mudah diterima.
“Bapak Muhammad Nasir dikenal sebagai sosok guru yang ramah, dekat dengan murid, dan memiliki cara mengajar yang mudah diterima siswa. Karena itu, beliau menjadi salah satu guru yang sangat disenangi para murid,” ujar Syafrida.
Menurutnya, purna tugas hanya mengakhiri hubungan kedinasan, bukan silaturahmi. Pengalaman Muhammad Nasir selama mengabdi masih dibutuhkan oleh madrasah.
“Ini bukan perpisahan terakhir, melainkan hanya perpisahan dalam tugas kedinasan. Kami masih membutuhkan saran, masukan, dan pengalaman dari Bapak demi kemajuan MAN Aceh Singkil,” katanya.
Murid yang Kini Menjadi Guru
Muhammad Nasir sendiri mengaku banyak hal yang dikenang selama seperempat abad mengajar.
Salah satu yang membuatnya bangga adalah melihat sejumlah mantan muridnya kini ikut berdiri di depan kelas sebagai guru di MAN Aceh Singkil.
Di antaranya Hasdar, S.Pd.I., Nasrin, S.Pd.I., M.Si., Miftah, Mukhlis, dan Sri Wahyuni.
Ia mengenang masa awal mengajar ketika MAN Aceh Singkil masih jauh dari kondisi sekarang. Saat itu, madrasah hanya memiliki tiga ruang belajar dengan lantai tanah.
“Dalam kehidupan selalu ada dua hal yang berjalan beriringan, yaitu pertemuan dan perpisahan,” ujar Muhammad Nasir.
Ia juga menyebut pengalaman membawa siswa MAN Aceh Singkil mengikuti wisata edukasi ke Brastagi sebagai salah satu kenangan yang paling berkesan selama menjalankan tugas.
“Hormati Gurumu, Nak”
Di hadapan siswa, Muhammad Nasir tidak banyak berbicara tentang dirinya. Ia justru menitipkan pesan tentang adab dan penghormatan kepada guru.
Ia meminta siswa tidak mudah berburuk sangka terhadap guru karena setiap nasihat yang diberikan pada dasarnya ditujukan untuk kebaikan mereka.
“Apa yang disampaikan guru pada dasarnya adalah untuk kebaikan murid. Jangan berburuk sangka kepada guru dan jangan sampai melukai hati guru,” pesannya.
Sebelum mengakhiri sambutan, ia menyampaikan pesan yang terdengar sederhana, tetapi menjadi penutup dari perjalanan panjangnya sebagai seorang guru.
“Hormati gurumu, nak. Jadikan mereka sebagai orang tua di sekolah, karena dari merekalah kalian mendapatkan ilmu dan bimbingan untuk masa depan,” tuturnya.
Acara perpisahan kemudian ditutup dengan doa bersama. Bagi keluarga besar MAN Aceh Singkil, purna tugas Muhammad Nasir bukan sekadar berakhirnya masa kedinasan, tetapi juga menjadi momentum mengenang perjalanan seorang guru yang telah menghabiskan seperempat abad hidupnya mendidik siswa.(*)