Mata Haru di Balik Amanah: Kisah Khalidin Umar Barat Menjadi Petugas Haji
Subulussalam | BumpNews.ID - Ada getar yang tak bisa disembunyikan saat nama Khalidin Umar Barat kembali diumumkan sebagai Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Tahun 1447 H/2026 M. Bagi sebagian orang, ini mungkin sekadar capaian.
Namun bagi Khalidin, momen itu adalah puncak dari perjalanan panjang yang ditempuh dengan doa, harapan, dan pengabdian.
Di sebuah sudut Kota Subulussalam, kabar itu datang seperti jawaban atas penantian. Ia kembali dipercaya negara untuk melayani tamu-tamu Allah di Tanah Suci.
Tahun ini, ia akan bertugas di Daerah Kerja Makkah Al-Mukarramah pada sektor layanan akomodasi sebuah peran yang menuntut kesabaran, ketelitian, dan keikhlasan.
Ini bukan kali pertama Khalidin menapaki jalan pengabdian tersebut. Dua tahun sebelumnya, pada musim haji 2024, ia juga menjadi bagian dari PPIH di Madinah Al-Munawarah. Saat itu, ia bertugas di Media Center Haji (MCH), menyampaikan informasi dan memastikan komunikasi tentang jemaah berjalan baik.
Di balik layar, perannya mungkin tak selalu terlihat. Namun di situlah ia mengambil bagian menghubungkan cerita dari Tanah Suci kepada masyarakat di tanah air. Ia menjadi satu dari puluhan jurnalis terpilih dari seluruh Indonesia, di tengah ribuan yang berharap mendapat kesempatan serupa.
Perjalanan menuju titik itu bukanlah hal mudah. Seleksi PPIH dikenal ketat, menguji bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga kesiapan mental dan keteguhan niat.
Ribuan pelamar bersaing, sementara kuota yang tersedia sangat terbatas. Pada 2024, sekitar 30 ribu orang mengikuti seleksi, dan hanya sebagian kecil yang terpilih. Di antara nama-nama itu, Khalidin hadir dan kini, ia kembali mengulang sejarah.
Namun bagi Khalidin, semua itu bukan semata tentang prestasi. Ia memandangnya sebagai amanah.
“Tugas utama adalah melayani tamu Allah. Ibadah adalah bonus,” begitu ia memaknainya.
Kalimat sederhana itu mencerminkan cara pandangnya: menempatkan diri sebagai pelayan, bukan pusat perhatian.
Di balik perannya sebagai petugas haji, Khalidin dikenal sebagai sosok yang telah lama mengabdikan diri di dunia jurnalistik.
Lebih dari dua dekade, ia bekerja sebagai wartawan Harian Serambi Indonesia, bagian dari jaringan Tribun. Sejak 2014, ia juga dipercaya memimpin Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Subulussalam.
Tak hanya itu, ia menjabat sebagai Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Orda Kota Subulussalam, serta Pemimpin Redaksi media online Antaran.id.
Pengalamannya di dunia pers juga membawanya menjadi Informan Ahli Dewan Pers Republik Indonesia pada periode 2022–2023.
Namun di balik berbagai jabatan itu, ia tetap seorang ayah dari empat anak, seorang suami, dan seorang anak yang tak pernah melupakan doa orang tua.
“Ada doa orang tua, ada harapan keluarga,” menjadi keyakinan yang ia genggam dalam diam.
Kesempatan kembali menjadi petugas haji juga berarti kembali meninggalkan keluarga untuk sementara waktu. Ada rindu yang harus ditahan. Namun di balik itu, ada kebanggaan yang tumbuh bahwa ia dipercaya mengemban tugas mulia.
Di Tanah Suci nanti, tugasnya tidak ringan. Ia harus siap membantu jemaah yang tersesat, mendampingi yang sakit, hingga menenangkan mereka yang gelisah. Dalam situasi-situasi itu, kehadiran seorang petugas bukan hanya soal bantuan teknis, tetapi juga empati.
Khalidin lahir di Tanah Tumbuh, dari lingkungan sederhana yang membentuk nilai-nilai hidupnya. Ia juga merupakan alumni Pondok Pesantren Darussaadah, Kota Fajar, Aceh Selatan tempat di mana nilai keikhlasan dan pengabdian mulai tertanam.
Kini, di tengah kesibukan, ia masih melanjutkan pendidikan pascasarjana di Universitas Waskita Dharma Malang. Baginya, belajar dan mengabdi adalah dua hal yang berjalan seiring.
Bagi Kota Subulussalam, sosok Khalidin menjadi lebih dari sekadar individu. Ia adalah bukti bahwa dari daerah, seseorang bisa melangkah jauh. Ia bahkan menjadi salah satu wartawan pertama dari kota tersebut yang mampu menembus panggung nasional hingga bertugas ke luar negeri dalam misi pelayanan haji.
Ia berharap, ke depan semakin banyak jurnalis dari daerah yang berani bermimpi dan mencoba.
Di balik semua pencapaian itu, Khalidin menyadari satu hal paling sederhana: semua ini adalah karunia.
Menjadi petugas haji berarti memperoleh kesempatan langka melayani tamu Allah sekaligus menunaikan ibadah haji, dengan fasilitas dari negara.
Kini, langkahnya kembali menuju Tanah Suci.
Namun lebih dari sekadar perjalanan fisik, ini adalah perjalanan jiwa. Di antara jutaan manusia yang memenuhi panggilan Ilahi, Khalidin hadir membawa satu harapan, menjalankan amanah dengan sepenuh hati.
Dan di ujung perjalanan itu, ia menitipkan doa yang sama seperti jutaan lainnya—agar setiap langkah bermuara pada ridha Allah, dan berakhir dengan haji yang mabrur.









Komentar