Perjalanan Adhie Menuju Tanah Suci Baitullah
Subulussalam | BumpNews.ID – Jumat pagi, 24 April 2026, kediaman Keluarga Besar Bancin Penanggalan dipenuhi keluarga, kerabat, dan sahabat.
Mereka datang bukan sekadar untuk menghadiri sebuah acara keluarga. Pagi itu, mereka berkumpul untuk melepas Raja Muhammad Adhie Putra bersama istrinya, drg. Maisarah Nasution, yang bersiap menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.
Doa dan lantunan ayat suci terdengar di tengah suasana haru. Prosesi peusijuk atau tepung tawar turut dilakukan sebagai bentuk restu dan doa keselamatan bagi keduanya.
Adhie berdiri bersama istrinya di hadapan keluarga. Tidak banyak yang ia sampaikan. Ia hanya meminta doa agar perjalanan yang akan ditempuh bersama sang istri berjalan lancar.
“Kami memohon doa restu dari keluarga, kerabat, dan ahli famili agar perjalanan ibadah haji ini berjalan lancar dan diberkahi.”
Ratusan orang yang hadir kemudian menjadi bagian dari perjalanan itu. Mereka mengantarkan doa sebelum Adhie dan Maisarah meninggalkan kampung halaman menuju Tanah Suci.
Keduanya tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 11 Embarkasi Medan dan dijadwalkan berangkat pada awal Mei 2026.
Namun perjalanan Adhie kali ini memiliki cerita lain.
Ada nama sang ayah yang ikut melekat dalam langkahnya.
Adhie merupakan putra pertama almarhum Haji Makmursyah Putra, tokoh yang pernah dipercaya menjadi Penjabat Bupati Aceh Singkil dan kemudian menjabat sebagai Bupati Aceh Singkil selama dua periode.
Makmursyah Putra wafat pada 15 Oktober 2011 ketika masih aktif menjalankan tugasnya.
Ia dimakamkan di kompleks Masjid Addarajat, tepat di seberang kediaman keluarga Bancin Penanggalan.
Tempat itu menjadi salah satu ruang yang menyimpan banyak kenangan keluarga.
Kini, dari kediaman yang sama, doa kembali dipanjatkan untuk perjalanan menuju Tanah Suci.
Bagi Adhie, keberangkatan haji bukan sekadar agenda perjalanan. Ada restu keluarga, doa orang tua, dan jejak pengabdian sang ayah yang menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Di tengah keluarga yang mengantarnya, Adhie juga membawa tanggung jawab sebagai anggota DPRK Subulussalam dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Namun untuk sementara, berbagai aktivitas itu ditinggalkan. Perjalanan kali ini adalah tentang ibadah.
Di Tanah Suci nanti, ia dan Maisarah akan menjalani rangkaian ibadah haji bersama ribuan jemaah lainnya.
Sebelum keberangkatan, keluarga hanya menitipkan satu harapan, keduanya diberi kesehatan, keselamatan, kemudahan dalam menjalankan ibadah, serta kembali ke Subulussalam sebagai haji dan hajjah yang mabrur.
Pagi itu, Penanggalan menjadi saksi sebuah langkah baru.
Dari rumah keluarga, doa mengalir menuju perjalanan yang jauh.
Adhie membawa restu keluarga. Membawa doa orang-orang terdekat. Dan di balik perjalanan itu, ada jejak sang ayah yang tetap menjadi bagian dari kisah hidupnya.
Kini, langkahnya menuju Tanah Suci dimulai.
Bukan hanya untuk memenuhi panggilan Baitullah, tetapi juga membawa doa keluarga yang sejak pagi telah mengiringinya.