Cerita Kemenag Aceh Singkil
Jejak Islam Nusantara di Barus
Aceh Singkil | BumpNews.ID - Udara pagi yang lembap mengiringi perjalanan rombongan dari Aceh Singkil menuju pesisir Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara.
Tujuan mereka bukan sekadar berwisata. Kali ini, perjalanan diarahkan untuk menapaki jejak panjang sejarah Islam di Nusantara yang tersimpan di Barus.
Rombongan yang dipimpin Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Singkil, Azhar, berangkat bersama jamaah Masjid Al Muhajirin Dusun Rahmat (BRR) Pulo Sarok dan sejumlah ASN, Minggu (5/4/2026).
Barus memiliki sejarah panjang sebagai salah satu bandar niaga penting di kawasan Nusantara. Sejak berabad-abad lalu, daerah ini dikenal sebagai penghasil kapur barus, komoditas yang diperdagangkan hingga berbagai wilayah dunia.
Di balik sejarah perdagangan tersebut, Barus juga dikenal memiliki jejak penting dalam perkembangan Islam di Nusantara.
Salah satu tempat yang menjadi tujuan rombongan adalah Makam Papan Tinggi Syekh Mahmud.
Untuk mencapai makam yang berada di atas bukit tersebut, pengunjung harus melewati ratusan anak tangga yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan sebutan “tangga seribu”.
Perjalanan menuju puncak tidak mudah. Namun, lelah perlahan terbayar ketika pengunjung sampai di kawasan makam dan melihat hamparan alam Barus dari ketinggian.
Di tempat itu, suasana terasa lebih tenang. Perjalanan yang semula menjadi aktivitas wisata berubah menjadi ruang untuk mengenang sejarah dan merenungkan perjalanan kehidupan.
Sejumlah cerita masyarakat juga masih melekat pada situs tersebut. Salah satunya adalah kisah bahwa orang yang datang dengan niat tidak baik disebut-sebut akan kesulitan mencapai puncak.
Terlepas dari cerita yang berkembang, Makam Papan Tinggi tetap menjadi salah satu tujuan wisata religi yang banyak dikunjungi karena nilai sejarah dan spiritualnya.
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Tugu Titik Nol Islam Nusantara.
Monumen tersebut menjadi salah satu penanda penting dalam narasi sejarah masuk dan berkembangnya Islam di kawasan Nusantara.
“Wisata religi ini bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual,” ujar Azhar.
Menurutnya, kunjungan ke berbagai situs sejarah di Barus dapat memberikan ketenangan sekaligus menambah wawasan mengenai perjalanan Islam di Nusantara.
Barus tidak hanya memiliki Makam Papan Tinggi. Ada pula kompleks Makam Mahligai dan sejumlah situs makam kuno lainnya yang menjadi bagian dari jejak sejarah Islam di kawasan tersebut.
Bagi rombongan dari Aceh Singkil, perjalanan itu menjadi pengalaman yang berbeda.
Mereka tidak hanya melihat tempat baru, tetapi juga belajar dari jejak masa lalu yang masih terawat hingga kini.
Di tengah kehidupan yang semakin modern, Barus menawarkan ruang untuk berhenti sejenak. Menyusuri tangga, melihat makam tua, menikmati lanskap pesisir, sekaligus mengingat bahwa perjalanan panjang sebuah peradaban pernah berawal dari tempat seperti ini.
Dari Aceh Singkil menuju Barus, perjalanan itu akhirnya bukan hanya tentang jarak yang ditempuh.
Ia menjadi perjalanan untuk mengenal sejarah, mendekatkan diri pada nilai spiritual, dan melihat kembali jejak Islam yang telah berabad-abad melekat di tanah Nusantara.









Komentar