Kemendikti Saintek Bentuk Konsorsium Kampus Percepat Pemulihan Pascabencana Sumatera
Jakarta | BumpNews.ID - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) menggelar Rapat Koordinasi
Pembentukan Konsorsium Perguruan Tinggi untuk Penanganan Pascabencana Alam Sumatera 2025.
Kegiatan tersebut berlangsung pada Rabu (14/1) di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta.
Rapat koordinasi ini menjadi bagian dari upaya kolaboratif lintas perguruan tinggi dalam mempercepat pemulihan kehidupan masyarakat terdampak bencana di wilayah Sumatera, khususnya pada sektor pendidikan, riset, serta pengabdian kepada masyarakat.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, menegaskan bahwa pembentukan konsorsium merupakan kebutuhan mendesak agar kontribusi perguruan tinggi dapat berjalan terintegrasi dan memberikan dampak nyata.
“Bencana di Sumatera tidak bisa ditangani secara parsial. Konsorsium diperlukan agar kepakaran, riset, dan sumber daya perguruan tinggi dapat digerakkan secara terkoordinasi dan tepat sasaran,” ujarnya.
Pemerintah saat ini tengah menyiapkan kerangka pemulihan dan rekonstruksi nasional melalui pembentukan satuan kerja khusus sesuai keputusan presiden.
Kebutuhan anggaran pemulihan diperkirakan mencapai Rp60 triliun yang akan dialokasikan berbasis rencana aksi serta penguatan ekosistem akademik nasional.
Dalam konteks tersebut, pemetaan wilayah kritis, pengorganisasian kepakaran, serta penguatan basis data pakar kebencanaan dari perguruan tinggi dinilai sangat krusial.
Fauzan menyebutkan, saat ini telah terdata puluhan pakar kebencanaan lintas kampus yang siap diterjunkan langsung melalui konsorsium.
Salah satu program yang diperkenalkan adalah Mahasiswa Berdampak, yakni integrasi kegiatan KKN dengan pendanaan proposal mahasiswa untuk terlibat langsung dalam proses pemulihan di daerah terdampak.
Program ini didukung anggaran sebesar Rp18 hingga 20 miliar untuk 150 proposal, dengan pendanaan maksimal Rp120 juta per proposal.
Selain itu, Fauzan juga menekankan pentingnya komunikasi publik yang efektif melalui media nasional dan konten edukasi agar proses pemulihan dapat dipahami serta didukung masyarakat luas.
Sejalan dengan hal tersebut, Sekretaris Jenderal MRPTNI, Muryanto Amin, menyatakan bahwa pembentukan konsorsium merupakan tindak lanjut dari berbagai diskusi antar pimpinan perguruan tinggi.
Ia menegaskan perlunya pedoman bersama, komitmen, serta pembagian peran yang jelas agar upaya pemulihan dapat berjalan lebih cepat dan terarah.









Komentar