Sekilas Info

Pemkab Aceh Barat Anggarkan Rp11 Miliar untuk Perkuatan Tebing Krueng Meulaboh di Lhok Guci

Tangkapan Layar dari laman sirup.lkpp.go.id, terkait proyek pengerjaan Rekonstruksi Perkuatan Tebing Krueng Meulaboh Pasi Sira Lhok Guci Kec. Pante Ceureumen. Ist

ACEH BARAT – Pemerintah Kabupaten Aceh Barat melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) pada tahun 2025 akan melaksanakan proyek rekonstruksi perkuatan tebing Krueng Meulaboh di kawasan Pasi Sira, Gampong Lhok Guci, Kecamatan Pante Ceureumen. Proyek ini diinisiasi untuk mengantisipasi ancaman abrasi dan banjir luapan sungai yang selama ini menjadi kekhawatiran utama warga setempat, khususnya saat musim hujan dengan intensitas tinggi.

Kawasan Pasi Sira dan sekitarnya merupakan wilayah yang rentan terdampak perubahan aliran sungai akibat erosi tebing. Setiap tahun, terutama di puncak musim hujan, air Krueng Meulaboh kerap meluap, menggenangi pemukiman dan lahan pertanian warga. Luapan tersebut tidak hanya merusak tanaman dan infrastruktur, tetapi juga mengancam keselamatan penduduk.

Berdasarkan data sirup.lkpp.go.id, Sabtu (21/6/2025), pekerjaan konstruksi ini tercatat dalam Rencana Umum Pengadaan (RUP) 2025 dengan Kode RUP 59491239. Proyek tersebut memiliki nilai pagu anggaran sebesar Rp11.018.790.000 yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Aceh Barat tahun 2025.

Kepala Dinas PUPR Aceh Barat, Dr. Kurdi, menjelaskan bahwa rekonstruksi perkuatan tebing ini merupakan langkah strategis pemerintah untuk melindungi aset vital masyarakat di bantaran Krueng Meulaboh.

“Kerusakan tebing sungai di Pasi Sira sudah cukup parah, dan jika dibiarkan, potensi kerugian material dan ancaman keselamatan warga akan semakin besar. Dengan rekonstruksi ini, kami berharap aliran sungai bisa lebih terkendali, sehingga banjir luapan dapat diminimalisir,” ungkapnya.

Proyek ini direncanakan dilaksanakan melalui metode pemilihan E-Purchasing. Tahapan pemilihan penyedia dilakukan pada Mei 2025, dengan masa pelaksanaan kontrak dimulai pada bulan yang sama. Pekerjaan konstruksi dijadwalkan selesai pada Desember 2025, dan hasilnya langsung dapat dimanfaatkan masyarakat pada bulan tersebut.

Menariknya, proyek ini diperuntukkan bagi usaha kecil dan wajib menggunakan produk dalam negeri untuk mendukung pertumbuhan industri lokal. Meskipun belum masuk dalam skema Pengadaan Berkelanjutan (Sustainable Public Procurement) yang mencakup aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan secara menyeluruh, proyek ini tetap diharapkan memberi manfaat signifikan bagi warga.

Rekonstruksi perkuatan tebing Krueng Meulaboh di Pasi Sira meliputi pembangunan struktur pelindung tebing berbahan beton bertulang, penguatan dasar sungai untuk mencegah penggerusan, serta penataan jalur air agar aliran lebih stabil.

Dengan adanya infrastruktur ini, manfaat yang diharapkan antara lain:

  • Mengurangi risiko abrasi yang menggerus lahan permukiman dan pertanian warga.
  • Mencegah banjir luapan yang sering merusak fasilitas umum dan rumah penduduk.
  • Melindungi jaringan jalan desa yang berada dekat bantaran sungai agar tidak terputus.
  • Memberi rasa aman bagi masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, terutama saat musim hujan.

Warga Gampong Lhok Guci, Hasanuddin, menyambut positif rencana ini. Menurutnya, setiap musim hujan, warga selalu khawatir melihat aliran sungai yang deras mengikis tebing.

“Kami berterima kasih kepada pemerintah karena akhirnya ada perhatian untuk membangun pelindung tebing ini. Kalau tebingnya kuat, sawah dan kebun kami aman, rumah juga tidak terancam hanyut,” ujarnya.

Proyek ini juga menjadi bagian dari program besar Pemerintah Kabupaten Aceh Barat dalam memperkuat infrastruktur mitigasi bencana. Bupati Aceh Barat sebelumnya telah menekankan pentingnya pembangunan yang berorientasi pada keselamatan masyarakat, bukan hanya aspek ekonomi.

Dengan dukungan anggaran yang memadai, pengawasan ketat, dan pemanfaatan tenaga kerja lokal, proyek perkuatan tebing Krueng Meulaboh diharapkan menjadi model penanganan abrasi sungai yang efektif dan berkelanjutan di Aceh Barat.