KAHMI Aceh Singkil Dorong Penetapan Hari Jadi Kota Singkel
SINGKIL | BUMPNEWS.ID – Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD KAHMI) Aceh Singkil mendorong penetapan hari jadi Kota Singkel (sekarang Singkil) melalui kajian sejarah yang komprehensif.
Pendapat itu mengemuka dalam diskusi yang digelar di Senina Cafe, Pulo Sarok, Singkil, Jumat, (16/10/2026). Hal itu akan dirumuskan menjadi rekomendasi kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil.
Diskusi bertajuk Menelusuri Titik Awal Kota Singkel dalam Lintasan Abad, Mengungkap Jejak Sejarah dan Usia Peradaban tersebut membahas dua kemungkinan titik awal sejarah Singkel, yakni keterkaitannya dengan kawasan Fansur sebagai penghasil dan perdagangan kapur barus sejak abad ke-2 Masehi, serta perkembangannya sebagai pusat perdagangan rempah-rempah pada sekitar abad ke-15.
Akademisi, antropolog, sekaligus penulis buku Singkel: Sejarah, Etnisitas dan Dinamika Sosial, Dr. Muhajir Al Fairusy, yang menjadi narasumber dalam diskusi itu, mengatakan penentuan titik awal sejarah Singkel dapat ditelusuri melalui dua pendekatan tersebut.
“Kalau kita mau menetapkan titik awal Singkel dalam lintas sejarahnya, kita bisa pakai dua opsi,” kata Muhajir.
Menurut dia, opsi pertama mengacu pada keterkaitan Singkel dengan Fansur, yang dikenal dalam sejarah perdagangan kapur barus untuk kebutuhan pengawetan mumi di Mesir. Pendekatan ini menempatkan penelusuran sejarah hingga abad ke-2 Masehi.
Sementara opsi kedua berangkat dari perkembangan Singkel sebagai pusat perdagangan rempah-rempah yang kemudian berkaitan dengan lahirnya ulama besar, seperti Syekh Hamzah Fansuri dan Syekh Abdurrauf As-Singkily. Pendekatan ini mengarah pada periode sekitar tahun 1400-an.
Kedua opsi tersebut menjadi bahan pembahasan untuk menelusuri perjalanan sejarah Singkel, baik dari sisi perdagangan maupun perkembangan intelektual Islam. Namun, penetapan hari jadi dinilai memerlukan penelitian lebih lanjut agar memiliki dasar sejarah yang kuat.
Gagasan diskusi ini berangkat dari tulisan Suhardin Djalal yang dimuat di Serambi dengan judul Ketika Daerah Lain Menetapkan Hari Jadinya Ratusan Tahun, Bagaimana Singkel Menatap Sejarahnya?
Suhardin, yang menjadi pemantik diskusi, mengatakan tulisan tersebut muncul dari pengamatannya terhadap sejumlah daerah di Aceh yang memperingati hari jadi berdasarkan usia sejarah hingga ratusan tahun.
Pengamatan itu kemudian memunculkan pertanyaan mengenai usia sejarah Singkel yang selama ini juga dikenal memiliki perjalanan panjang, tidak hanya dihitung berdasarkan terbentuknya pemerintahan daerah dalam sistem otonomi modern.
Diskusi yang dibuka Koordinator Presidium MD KAHMI Aceh Singkil, Ir. H. Muzni, SP, dan dimoderatori Sekretaris Umum MD KAHMI Aceh Singkil, Mustafa, SE., MM., tersebut juga membahas sejumlah sumber sejarah yang perlu ditelusuri lebih jauh.
Salah seorang peserta menyinggung catatan penjelajah Portugis Tome Pires yang mendokumentasikan wilayah dan aktivitas perdagangan di Asia pada awal abad ke-16. Penyebutan nama Singkel dalam catatan yang dikaitkan dengan tahun 1512 menjadi salah satu bahan yang dinilai perlu dikaji lebih lanjut.
Peserta lainnya turut membahas temuan benda-benda bersejarah berupa koin, cawan, dan tembikar yang dikaitkan dengan Dinasti Abbasiyah dan Dinasti Ming. Temuan tersebut dipandang relevan untuk menelusuri kemungkinan hubungan Singkel dengan jaringan perdagangan dan interaksi antarkawasan pada masa lampau.
Berbagai sumber tersebut membutuhkan pengujian melalui penelitian sejarah, arkeologi, dan antropologi agar keterkaitannya dengan perjalanan Singkel dapat dijelaskan secara ilmiah.
KAHMI Siapkan Rekomendasi kepada Pemkab
Ketua MD KAHMI Aceh Singkil mengatakan diskusi tersebut merupakan langkah awal untuk mendorong penetapan hari jadi Singkel melalui proses kajian yang terbuka dan melibatkan berbagai kalangan.
“Diskusi ini menjadi awal untuk upaya lebih lanjut kita menetapkan hari jadi, tentu perlu kajian lebih lanjut dan terbuka,” katanya.
MD KAHMI Aceh Singkil berencana menyusun rekomendasi hasil diskusi untuk disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil. Rekomendasi itu diharapkan menjadi bahan pertimbangan pemerintah daerah dalam menindaklanjuti penelitian mengenai sejarah Singkel.
Salah satu langkah yang diusulkan ialah menggelar seminar internasional dengan melibatkan sejarawan, arkeolog, antropolog, akademisi, dan peneliti untuk mengkaji berbagai sumber sejarah secara lebih mendalam.
Melalui proses tersebut, penetapan hari jadi Singkel diharapkan tidak sekadar menghasilkan tanggal peringatan, tetapi juga memiliki landasan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kajian sejarah ini sekaligus menjadi upaya memperkuat pemahaman terhadap identitas dan perjalanan peradaban masyarakat Singkel serta mewariskannya kepada generasi mendatang.*









Komentar