Syahid Bersama Al-Qur’an: Kisah Ibadah Utsman bin Affan
BumpNews.ID - Sosok sahabat Nabi yang dikenal dengan kelembutan hati, kedermawanan, dan kekuatan ibadahnya adalah Khalifah ketiga, Utsman bin Affan.
Ia termasuk dalam jajaran Khulafaur Rasyidin dan menjadi teladan dalam kepemimpinan sekaligus ketekunan beribadah.
Sejak memeluk Islam, Utsman dikenal sebagai pribadi yang pemalu, santun, namun sangat teguh dalam ketaatan. Dalam keseharian, ia tidak hanya fokus pada urusan pemerintahan, tetapi juga memperbanyak ibadah, terutama membaca Al-Qur’an.
Beberapa riwayat menyebutkan, pada bulan Ramadan beliau mampu mengkhatamkan Al-Qur’an dalam waktu singkat, bahkan ada yang meriwayatkan beliau menyelesaikannya dalam satu hari.
Ketekunan ini menjadi contoh nyata tentang kedekatan seorang pemimpin dengan kitab sucinya.
Kecintaan Utsman terhadap Al-Qur’an juga terlihat dalam kebijakannya saat menjadi khalifah. Pada masa kepemimpinannya, mushaf Al-Qur’an dikodifikasikan dan diseragamkan demi menjaga kemurnian bacaan umat Islam.
Mushaf standar yang kemudian dikenal sebagai Mushaf Utsmani menjadi rujukan hingga hari ini.
Kedekatan beliau dengan Rasulullah ﷺ pun sangat istimewa. Utsman termasuk sahabat yang paling dicintai Nabi dan dikenal dengan gelar Dzun Nurain (Pemilik Dua Cahaya) karena menikahi dua putri Rasulullah secara bergantian.
Dalam berbagai peristiwa penting, ia selalu berada di barisan kaum Muslimin, baik dalam dukungan moral maupun materi.
Namun, perjalanan hidupnya tidak lepas dari ujian berat. Di usia sekitar 82 tahun, Utsman menghadapi pemberontakan yang berujung pada wafatnya beliau. Peristiwa itu terjadi saat beliau sedang berpuasa di bulan Ramadan.
Dalam detik-detik terakhir hidupnya, beliau dikabarkan tengah membaca Al-Qur’an. Keadaan tersebut menjadi simbol keteguhan iman hingga akhir hayat.
Wafatnya Utsman sebagai syahid dalam kondisi berpuasa dan membaca Al-Qur’an menjadi pelajaran mendalam bagi umat Islam. Ia menunjukkan bahwa ibadah bukan sekadar rutinitas, melainkan napas kehidupan yang dijaga sampai akhir.
Kisah ini mengingatkan bahwa kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari jabatan dan kekuasaan, tetapi dari konsistensi dalam beribadah.
Keteladanan Utsman bin Affan menjadi inspirasi sepanjang zaman, terutama dalam memperbanyak tilawah Al-Qur’an, terlebih di bulan suci Ramadan.***








Komentar