1. Opini

Gelombang Protes, Alarm Keras Untuk Penguasa

Ilustrasi. Foto/BumpNews.ID

BumpNews.ID – Gelombang demonstrasi yang terjadi di berbagai daerah dalam beberapa hari terakhir menjadi penanda betapa dalam luka sosial yang kini dirasakan masyarakat.

Makassar, Nusa Tenggara Barat, hingga Solo, api amarah massa menjalar dan melalap gedung-gedung simbol kekuasaan. Gedung DPRD terbakar, pos kepolisian luluh lantak, hingga bank serta fasilitas negara lainnya ikut menjadi sasaran.

Di Makassar, Jumat malam (29/8), Gedung DPRD Kota ludes dilalap api. Sehari berselang, Sabtu (30/8), massa di Nusa Tenggara Barat menyerbu dan membakar Gedung DPRD provinsi. Pada hari yang sama, gedung DPRD Solo juga ikut terbakar. Deretan peristiwa ini menjadikan akhir pekan penuh asap, amarah, dan ketidakpastian.

Tak hanya gedung, korban jiwa pun berjatuhan. Seorang pengemudi ojek online di Jakarta meregang nyawa. Di Makassar, seorang fotografer dan anggota Satpol PP juga tewas dalam kericuhan. Nyawa manusia melayang di tengah teriakan protes yang berubah menjadi tragedi.

Fenomena ini menandai adanya akumulasi kemarahan yang tidak bisa lagi dipandang sebagai insiden sporadis.

Saat massa berbondong-bondong turun ke jalan, lalu gedung-gedung wakil rakyat menjadi sasaran amarah, itu pertanda adanya jurang kepercayaan yang semakin lebar antara rakyat dengan para penguasa.

Di balik kobaran api dan puing-puing bangunan yang runtuh, terdapat pesan besar yang hendak disampaikan, publik sedang marah. Kemarahan yang bukan lahir dalam semalam, melainkan akumulasi kekecewaan terhadap sistem yang dianggap gagal menghadirkan keadilan dan kesejahteraan.

Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab para pemegang kekuasaan adalah, mengapa aspirasi sebagian masyarakat sampai harus dilampiaskan dengan cara yang begitu drastis? Saat suara tak lagi didengar di ruang sidang dan jalur resmi, jalanan pun menjadi panggung, meski dengan risiko benturan dan korban.

Redaksi meyakini, demonstrasi adalah hak konstitusional warga negara. Namun, ketika aksi berubah menjadi kerusuhan, maka ada sesuatu yang tidak beres dalam hubungan antara masyarakat dan penguasa.

Tugas aparat harus menjaga keamanan tanpa menambah luka. Sementara wakil rakyat dan pemerintah mesti berani membuka ruang dialog yang sejati, bukan sekadar basa-basi politik.

Gelombang demo ini adalah alarm keras. Bila tuntutan dan keluhan masyarakat terus diabaikan, api kemarahan akan semakin sulit dipadamkan.

Demokrasi akan kehilangan makna jika rakyat merasa terasing dari keputusan-keputusan yang menyangkut hidup mereka.

Kini saatnya negara benar-benar hadir, bukan hanya dalam bentuk pasukan bersenjata atau mobil taktis, melainkan lewat kebijakan yang pro-rakyat.

Berita Lainnya