Khalidin Umar Barat Ajak Generasi Muda Rawat Warisan Perjuangan Singa Tanoh Singkil
SUBULUSSALAM – Sejarah perjuangan Raja Sultan Daulat Sambo, tokoh yang dikenal dengan julukan Singa Tanoh Singkil, kembali diangkat dalam seminar sejarah yang digelar Selasa (13/10/2026) di Anjungan Rumah Harisman Sambo, S.P.
Seminar tersebut menghadirkan H. Khalidin Umar Barat, S.PdI., M.A.P., Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Orda Kota Subulussalam, sebagai pemateri. Kegiatan ini menjadi momentum untuk menggali kembali jejak perjuangan Sultan Daulat Sambo sekaligus mendorong pelestarian sejarah lokal agar tidak hilang dari ingatan generasi penerus.
Dalam pemaparannya, Khalidin menekankan bahwa sejarah bukan sekadar cerita tentang masa lalu, melainkan bagian penting dari identitas, martabat, dan jati diri masyarakat. Kisah perjuangan para pendahulu perlu didokumentasikan secara serius agar generasi muda memahami akar sejarah daerahnya sendiri.
Sultan Daulat Sambo dikenal sebagai Raja Kerajaan Batu-Batu yang memiliki catatan perjuangan melawan kolonialisme Belanda di kawasan Tanah Singkil. Keteguhan dan keberaniannya dalam mempertahankan wilayah serta martabat masyarakat membuat namanya dikenang melalui julukan Singa Tanoh Singkil.
Sejumlah catatan sejarah menyebutkan bahwa perlawanan Sultan Daulat Sambo berlangsung pada awal abad ke-20. Penelitian sejarah yang dilakukan Universitas Negeri Medan mengkaji perlawanan tersebut pada periode 1901–1912, termasuk strategi pertahanan yang digunakan dalam menghadapi kekuatan kolonial.
Menurut Khalidin, kisah perjuangan Sultan Daulat Sambo harus ditempatkan sebagai bagian penting dari sejarah lokal yang layak diteliti, ditulis, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Sejarah yang tidak ditulis akan mudah dilupakan. Karena itu, kita memiliki tanggung jawab untuk menggali, mendokumentasikan, dan mewariskan sejarah perjuangan para pendahulu kepada generasi muda,” demikian pesan utama yang ditekankan dalam seminar tersebut.
Ia menilai, salah satu tantangan dalam pelestarian sejarah daerah adalah masih terbatasnya dokumentasi tertulis serta belum optimalnya perhatian sebagian masyarakat terhadap sejarahnya sendiri. Akibatnya, sejumlah kisah perjuangan tokoh lokal lebih banyak diwariskan melalui cerita lisan yang berisiko mengalami perubahan atau bahkan hilang seiring berjalannya waktu.
Karena itu, diperlukan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari keluarga dan keturunan tokoh sejarah, tokoh adat, akademisi, pemerintah, hingga masyarakat, untuk menghimpun sumber-sumber sejarah yang masih tersedia.
Upaya tersebut dapat dilakukan melalui penelusuran arsip, pendokumentasian silsilah keluarga, pencatatan kesaksian para tetua, penelitian akademik, serta pemeliharaan makam dan situs bersejarah yang berkaitan dengan Sultan Daulat Sambo.
Khalidin juga menekankan pentingnya membedakan cerita turun-temurun dengan fakta yang telah didukung dokumen dan penelitian. Menurutnya, penghormatan terhadap tokoh sejarah akan semakin kuat apabila dibangun di atas data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Lebih jauh, ia berpandangan bahwa nilai perjuangan Sultan Daulat Sambo tetap relevan dalam kehidupan masyarakat masa kini. Semangat keberanian, keteguhan, integritas, dan pengabdian kepada masyarakat dapat diterjemahkan melalui pendidikan, pembangunan sumber daya manusia, pelestarian budaya, serta perjuangan memajukan daerah.
“Jangan sampai generasi mendatang lebih mengenal tokoh dari tempat yang jauh daripada tokoh yang telah meninggalkan jejak perjuangan di tanahnya sendiri,” menjadi pesan penting dalam upaya membangun kesadaran sejarah lokal.
Seminar ini diharapkan menjadi salah satu langkah untuk memperkuat perhatian terhadap sejarah Sultan Daulat Sambo dan Kerajaan Batu-Batu, sekaligus membuka ruang bagi penelitian yang lebih mendalam mengenai perjuangan serta warisan sejarah Tanah Singkil.
Bagi Khalidin, mengenang sejarah tidak cukup dilakukan melalui seremoni. Diperlukan gerakan nyata untuk menulis, meneliti, merawat peninggalan, dan memperkenalkan tokoh-tokoh sejarah daerah kepada generasi muda.
Dengan demikian, julukan Singa Tanoh Singkil tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat, tetapi juga menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga identitas, menghormati perjuangan leluhur, dan meneruskan nilai-nilai terbaik sejarah kepada masa depan. (*)