1. Daerah

Tuntaskan Pengabdian di Aceh Tengah, Relawan UKM PK UTU Tinggalkan Program Strategis untuk Desa Tangguh Bencana

ACEH TENGAH | BumpNews.ID – Setelah 25 hari mengabdi di lokasi bencana, relawan Unit Kegiatan Mahasiswa Penanggulangan Kebencanaan (UKM PK) Universitas Teuku Umar (UTU) resmi kembali ke kampus usai menuntaskan rangkaian program Pengabdian Mahasiswa Berdampak (PMB) dalam skema Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM).

Tim relawan melaksanakan pengabdian di Kampung Waq Toweren, Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah, dengan mengusung tema “Bersama Sumang, Bangkit Menuju Desa Tangguh Bencana.” Meski berdasarkan surat tugas LPPM UTU masa pengabdian berlangsung 30 hari sejak 28 Januari hingga 28 Februari 2026, tim berhasil merampungkan seluruh program hanya dalam waktu 25 hari.

Koordinator Lapangan Tim Relawan UKM PK UTU, Rahma Hayatun Nupus, mengungkapkan rasa syukur atas capaian tersebut.

“Alhamdulillah, seluruh program prioritas berhasil kami selesaikan dalam 25 hari. Ini berkat kolaborasi kuat antara mahasiswa, dosen pendamping, dan masyarakat,” ujarnya.

Program pertama yang menjadi kebutuhan mendesak warga adalah penyediaan air bersih. Tim membangun tiga titik menara air lengkap dengan bak tandon serta instalasi perpipaan untuk distribusi air. Dari lima tandon yang disiapkan, dua unit lainnya dibangun secara swadaya oleh masyarakat sebagai bentuk dukungan terhadap percepatan pemulihan pascabencana.

Program kedua berfokus pada pemulihan psikososial dan peningkatan kapasitas kebencanaan melalui Sekolah Darurat dan Siaga Bencana.

Kegiatan meliputi trauma healing, sosialisasi kesiapsiagaan, pendaftaran Sekolah Siaga Bencana di sistem InaRisk BNPB RI, serta inisiasi pembentukan Kampung/Desa Tangguh Bencana (Destrana).

Saat ini, pembentukan Destrana masih menunggu Surat Keputusan (SK) Reje Waq Toweren untuk penetapan struktur tim. Setelah SK terbit, UKM PK UTU akan menandatangani perjanjian kerja sama peningkatan kapasitas sumber daya manusia bagi tim Destrana.

Dosen pendamping program, Irsadi Aristora, S.Hut., M.H., menjelaskan bahwa tim juga tengah menyusun dokumen kontinjensi kampung sebagai pedoman pembangunan berbasis mitigasi risiko bencana.

“Dokumen ini menjadi acuan penting dalam perencanaan pembangunan kampung yang aman bencana. Penyusunannya dilakukan paralel sambil menunggu pengesahan tim Destrana,” jelasnya.

Program prioritas lainnya mencakup pemasangan lampu penerangan jalan berbasis panel surya serta pengadaan pengeras suara untuk mushalla Waq Toweren.

Dalam upaya perlindungan kawasan rawan longsor, tim UKM PK UTU bekerja sama dengan Babinsa Toweren, Koramil Lut Tawar, dan Kodim Aceh Tengah. Sebanyak 300 bibit tanaman Multi Purpose Tree System (MPTS) seperti alpukat, durian, sengon, mahoni, kemiri, dan petai ditanam di lahan kritis bekas longsor.

Ir. Rita Hartati, ST., MT selaku dosen pendamping menyebutkan bahwa langkah ini merupakan bagian dari mitigasi berbasis ekosistem.

Selain itu, tim juga menggandeng Program PLAN dan PMI dalam pembersihan suplai air dari water treatment induk menuju rumah-rumah warga di Mukim Toweren. Distribusi air bersih secara menyeluruh dijadwalkan segera kembali normal.

Kehadiran relawan UTU juga mendapat perhatian luas. Tim bahkan dipercaya menjadi panitia penyambutan kunjungan Cinta Laura bersama rombongan WWF Indonesia Kantor Aceh di Kampung Waq Toweren. Kunjungan tersebut disambut antusias warga dan pelajar setempat, sekaligus menjadi momentum penyaluran bantuan kemanusiaan.

Sejak tiba pada 31 Januari hingga 24 Februari 2026, tim relawan hidup berdampingan dengan para penyintas. Pada momen pelepasan, suasana haru menyelimuti masyarakat dan aparatur kampung.

Reje Kampung Waq Toweren, Abdul Habir, menyampaikan apresiasi mendalam atas kontribusi tim UKM PK UTU.

“Kami sangat terbantu, mulai dari distribusi logistik pangan dua tahap sebanyak 128 paket sesuai jumlah KK, hingga tersedianya air bersih yang sudah lama kami nantikan. Semoga seluruh tim dan pimpinan UTU diberikan kesehatan dan keberkahan,” ungkapnya.

Pengabdian 25 hari ini bukan sekadar respons darurat, melainkan fondasi menuju Kampung Waq Toweren yang lebih tangguh, mandiri, dan siap menghadapi risiko bencana di masa mendatang.

Berita Lainnya